Senin, 18 Maret 2013

pandangan orientalis terhadap al quran




MAKALAH ORIENTALISME
Tentang
Pandangan Orientalis Terhadap Al Quran

IAIN-Imam-Bonjol1

Disusun Oleh :
            RUSMA DONAL : 510 . 060
 
Dosen Pembimbing :
Dr. Alirman hamzah, MA
Faisal, M. Ag



JURUSAN AQIDAH FILSAFAT (AF)
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
1433 H / 2012 M


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pandangan Orientalis Terhadap Al Quran
            Orientalisme didefiniskan sebagai pemahaman masalah-masalah ketimuran. Istilah ini berasal dari bahasa Perancis, orient yang berarti timur atau bersifat timur. Isme berarti paham, ajaran, sikap atau cita-cita. Orang yang mempelajari masalah-masalah ketimuran (termasuk keislaman) disebut orientalis yaitu ilmuwan Barat yang mendalami bahasa-bahasa, kesustraan, agama, sejarah, adat istiadat dan ilmu-ilmu dunia Timur. Dunia Timur yang dimaksud di sini adalah wilayah yang terbentang dari Timur dekat sampai ke Timur jauh dan negara-negara yang berada di Afrika Utara.
            Para orientalis berpandangan semisal Antonius Walaeus, ”al Qur’an adalah kitab suci yang disimpangkan dan penuh dengan pemikiran yang saling bertentangan”. Jesuit J.J. Ten Berge, “Al-Qur’an adalah konfirmasi dan interpretasi terhadap sejarah Bibel, -suatu hasil yang sangat buruk- serta mereduksinya dan berisikan koleksi dongeng-dongeng, cerita buatan, dan cerita-cerita yang disalahpahami”. John Wansbrough, “al-Qur’an adalah karya sastra Nabi SAW yang cenderung mengadaptasi kitab-kitab sebelumnya”.
            George Sale, DR. Henry Stubbe,  DR. John Naish, dan F. F. Arbuthnot senada berpandangan bahwa surah dan ayat-ayat dalam Alquran berbahasa Arab mempunyai keindahan deduktif, murni, dan memiliki gaya tarik, expressif dan enersi yang eksflossif, yang terlalu sukar diterjemahkan kata demi kata”. Goldziher, “ perubahan uslub (metode) surah dan ayat Alquran dipengaruhi oleh perubahan tabiat pribadi Muhammad”.
            Washington Irving “al-Qur’an terdapat banyak penyimpangan serta ketimpangan, campur aduk (heterogeneous fragments) tidak tersistem antara penyusunan surah dan ayat-ayat dalam al-Qur’an (thrown together without selection, without chronological order, and without system of any kind)”. Abraham Geiger “Surah dan ayat-ayat dalam al-Qur’an di ambil dari kisah                    dan doktrin-doktrin orang yahudi”. Sedangkan S. Fraenkel dan Hartwig Hirschfeld berpandangan tentang pemfokuskan pentingnya melacak berbagai kosa-kata asing yang banyak di adopsi dalam surah dan ayat dalam Al-Qur’an.
            Thedore Noldeke dalam bukunya menjelaskan tentang sejarah surah-surah dengan menggunakan metode lurus yang kadang-kadang mengandung kebenaran. Serta  mengutip susunan surah-surah dari kitab Abil Qasim Umar bin Muhammad bin Abdul-Kaafi dalam penyusunan surah makkiyah dan madaniyah. Dan pandangan Noldeke banyak mewarnai dan menjadi rujukan dari para orientalis setelahnya. Christoph Luxenberg bepandangan serta berspekulasi dalam surah dan ayat-ayat al-Qur’an banyak diketemukan kesalahan penulisan dan bacaan dan bahkan  Luxenberg mengutak-atik surah dan ayat dalam teks al-Qur’an. Dalam hal ini Christoph Luxenberg banyak mendapatkan kritikan dan penolakan dari asumsi-asumsinya oleh kalangan ulama-ulama islam.
            Dari semua pandangan para orientalis di atas sudah pasti banyak pandangan yang mendiskritkan serta mereduksi surah dan ayat al-Qur’an dengan hal-hal negatif disebabkan kebencian mereka kepada islam dan faktor untuk mengintervensi kajian islam dengan sekulerisasi ilmu dari al-Qur’an. Serta ada pula pandangan dari para orientalis yang positif terhadap surah dan ayat al-Qur’an dikarenakan mengakui atas keindahan uslub dan keistimewaan mukjizat terbesar nabi Muhammad SAW tersebut.

B. Tokoh –tokoh orientalis yang menyangsikan kebenaran al quran

1. Fay Weldon          
            Al-Quran merupakan makanan bagi non-pemikiran. (Kitab) Ini bukan sebuah puisi dimana sebuah masyarakat dapat bersandar secara aman atau masuk akal. (Kitab) Ini memberi senjata dan kekuatan pada ketertiban pemikiran dan ketertiban pemikiran dengan mudah dijalankan, dan mereka menakut-nakuti. Saya melihat (al-Quran) ini sebagai naskah yang terbatas dan membatasi dalam hal pemahaman atas apa yang saya definisikan sebagai Tuhan.

2. Karen Amstrong  
            Orang barat cenderung melihat Al-Quran penuh pengulangan yang membosankan, karena tampak kembali ke wilayah yang sama berkali-kali. Namun buku ini tidak dirancang untuk       dibaca secara menyendiri, melainkan untuk dibaca sebagai ibadah. Bila orang Muslim mendengar sebuah surah dibacakan di Masjid, mereka diingatkan pada ajaran sentral agama meraka hanya melalui satu ayat tersebut.(dalam buku Muhammad, A Biography of the Prophet,terjamahan Sirkit Syah, penerbit: Risalah Gusti hal.47)            

            Al-Quran tidak dimaksudkan untuk dibaca sebagaimana membaca buku-buku lain. Jika didekati secara tepat, kata para penganut (islam), Al-Quran memberi rasa kehadiran yang agung. Ini sulit dipahami oleh seseorang yang tumbuh dalam tradisi Kristen karena Kristen tidak memiliki bahasa keramat. (dalam buku Muhammad, A Biography of the Prophet,terjamahan Sirkit Syah, Penerbit: Risalah Gusti hal.46)       
 
3. Conor Cruise O'Brien     
            Tampak sangat menjijikan. Mereka (Sejarawan Kristen yang menghormati Islam) tampak menjijikan, karena memang menjijikan, seorang Barat yang mengaku mengagumi masyarakat Muslim, namun masih mengikuti nilai-nilai Barat adalah seorang munafik (hypocrite) atau orang bebal atau keduanya.
C. Pertanyaan tentang orientalis
1.      Apakah semua keruwetan yang terjadi di dunia Islam disebabkan oleh orientalis?
            Memang orientalis punya andil dalam merusak dan menimbulkan keruwetan dalam dunia Islam. Namun berapa prosentasenya kita tidak tahu secara pasti. Dalam surat at Taubah dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman dan orang-orang munafik antara sebagian dengan sebagian yang lain saling tolong-menolong. Jadi, para orientalis juga saling bahu membahu dalam merusak dunia Islam.


2.      Bagaimanakah perkembangan dan dinamika orientalisme saat ini?
            Saya melihat orientalisme bukan sebuah gerakan. Dalam konferensi-konferensi dan pertemuan yang biasa mereka lakukan. Mereka memang memiliki jaringan melalui beberapa organisasi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) namun sifatnya informal karena lintas            negara. Yang menyatukan mereka adalah human interest yakni mereka mempunyai minat dan ketertarikan yang sama dalam dunia internasional.
            Orientalis Barat kebanyakan adalah keturunan Yahudi. Orang Yahudi menganggap dalam stratifikasi masyarakatnya, yang paling tinggi kedudukannya ialah yang paling berilmu. Seperti ilmuwan, saintis apalagi yang plus ahli agama. Hampir kebanyakan kaum Yahudi mempunyai cita-cita untuk menjadi ilmuwan terutama menjadi ilmuwan yang ahli agama yang biasa disebut ulama Bani Israil.
3.      Bagaimanakah sikap orientalis terhadap al-Qur’an?
            Orientalis sejak dahulu hingga sekarang mengkaji al-Qur’an untuk mencari kelemahan, mereka tidak percaya bahwa al-Qur’an adalah wahyu dan menganggapnya buatan Muhammad saw. Sebab apabila mereka mengakui bahwa Muhammad adalah nabi maka gugurlah agama Yahudi. Al-Qur’an merupakan target utama serangan misionaris dan orientalis Yahudi-Kristen, setelah mereka gagal menghancurkan sirah dan sunnah nabi saw. Mereka mempertanyakan status kenabian beliau, meragukan kebenaran riwayat hidup beliau dan menganggap sirah beliau tidak lebih dari legenda dan cerita fiktif belaka. Demikian pendapat Caetani, Wellhausen dan lain-lain.
4.      Orientalis lebih tertarik mengkaji apa?
            Yang pertama tentu mempelajari al-Qur’an. Mereka mengatakan ini merupakan suatu pendekatan baru dalam mempelajari al-Qur’an dengan metode linguistik, apa adanya tanpa perlu mengkaji asal-usulnya, bahkan mereka mengatakan pendekatan lama mengandung polemik.Memang benar bahwa corpus kesarjanaan Barat mengenai al-Qur’an cukup beragam. Tidak semua orientalis hendak menghancurkan Islam dengan menebarkan keraguan terhadap al-Qur’an dan hadist. Ada juga orientalis yang konon bermaksud ‘baik’ dan tampak simpati kepada Islam yang disebut counter examples. Di bidang hukum Islam mereka sangat mempunyai kepentingan karena mereka tahu orang-orang Islam semakin semangat mempelajari dan menerapkan ekonomi Islam.

5.      Bagaimanakah pengaruh orientalis di balik gerakan anti-hadits?
            Serangan orientalis terhadap hadist dilancarkan secara bertahap, terencana dan bersama-sama. Ada yang menyerang matan-nya  seperti Sprenger, Muir dan Goldziher. Menyerang isnad-nya seperti Horovitz, Schacht dan Juynboll.Serangan mereka diarahkan ke semua kategori; sebagian menyerang hadist sejarah yang berhubungan dengan sirah. Misalnya Kister, Scholler, Motzki. Sebagian yang lain menggugat hadist hukum atau fiqih seperti Shacht, Powers dan Gilliot.
            Gugatan para orientalis dan misionaris Yahudi dan Kristen telah menimbulkan dampak yang cukup besar. Melalui tulisannya yang diterbitkan dan dibaca luas, mereka telah berhasil mempengaruhi dan meracuni pemikiran sebagian umat Islam. Muncullah gerakan anti-hadist di India, Pakistan, Mesir dan Asia Tenggara. Pada tahun 1906 sebuah gerakan yang menamakan dirinya Ahli al-Qur’an muncul di bagian barat Punjab, Lahore, dan Amritsar. Pimpinannya Abdullah Chakrawali dan Khwaja Ahmad Din, mereka menolak hadist secara keseluruhan.
            Dalam propagandanya, gerakan ini mengklaim bahwa al-Qur’an saja sudah cukup untuk menjelaskan semua perkara agama. Akibatnya mereka menyimpulkan shalat hanya empat kali sehari, tanpa adzan dan iqamah, tanpa takbiratul ihram. Selain itu mereka menganggap tidak ada shalat ‘Id dan shalat jenazah.
6.      Apakah orientalis sekarang gencar melakukan aktivitasnya melalui LSM?
            Memang institusi penting bagi mereka untuk menjalankan aktivitasnya karena mempunyai dampak yang luas. Tentunya dengan restu dan dukungan dari pemerintah. Mereka mempunyai dana yang kuat dan fasilitas yang memadai untuk melancarkan aksinya. Selain itu sebagian mereka dengan sebagian yang lain saling bantu membantu dalam menebarkan racun orientalisme.
7.      Bagaimanakah mereka membuat kaderisasi?
Itu memang strategi mereka yang paling mudah. Sebagaimana yang dilakukan Inggris di daerah jajahannya. Misalnya di Indonesia mereka melakukan kaderisasi di Manado, Sumatera Barat dan         Salatiga. Oleh karena itu tokoh-tokoh nasional pada waktu itu berasal dari kota-kota tersebut. Tidak semua orientalis melakukan aktivitasnya dengan disamarkan, ada juga yang terangan-terangan.
8.      Apa saja motivasi dan topik kajian orientalis?
            Kajian teologi Islam oleh para orientalis Barat telah dimulai sejak awal abad ke-19 Masehi, tidak lama setelah bangsa-bangsa Eropa menaklukan hampir seluruh dunia Islam. Berbekal manuskrip karya para ulama dan ilmuwan Islam yang diboyong ke Eropa, mereka mulai mempelajari dan mengkaji satu per satu khazanah intelektual Islam.
            Mereka meyakini kebenaran kata-kata Sir Francis Bacon dalam risalahnya ‘de haeresibus’ tahun 1597 bahwa ilmu adalah kekuatan. Hegemoni militer, politik dan ekonomi akan tumbang jika tidak didukung oleh pengetahuan. Mereka yakin untuk menaklukan dunia Islam mereka harus mengetahui Islam dari berbagai aspeknya dari orang Islam sendiri.
9.      Apa dampak orientalis bagi dunia Islam?
            Secara positif mereka banyak menyadarkan kita akan pentingnya membaca sejarah para ulama-ulama Islam kita. Mereka mengangkut manuskrip kita keluar negeri yang merupakan sejarah keilmuwan kita untuk dipelajari dan diaplikasikan sehingga mereka lebih maju dari umat Islam. Di Irak setelah invasi Amerika, benda dan manuskrip Islam yang ada di Irak banyak diboyong keluar oleh AS. Memang di AS memiliki teknologi yang lebih canggih untuk menjaga manuskrip. Secara negatif mereka mendudukan diri mereka sebagi otoritas dalam berpendapat dan mengambil keputusan. Pendapat dan pemikiran merekalah yang harus didengar dan dipakai.
10.  Apakah benar mereka memasuki dunia pendidikan?
            Kebanyakan para pelajar Muslim yang dikirim belajar atau studi ke luar negeri setelah kembali ke Indonesia pikirannya teracuni oleh pemikiran orientalis. Kemudian mereka memiliki posisi yang strategis sepulangnya ke negara asalnya, misalnya menjadi leader dalam dunia pendidikan dan memasuki dunia birokrat. Oleh karena itu mereka mengambil para dosen-dosen dari universitas bahkan kampus-kampus Islam untuk melakukan studi di negaranya agar dapat mewarnai pemikirannya.
11.  Apakah liberalisasi yang telah merebak ke berbagai bidang adalah kerjaan orientalis?
            Ya memang. Itu faktor eksternal hasil dari kerja orientalis. Para ahli sejarah umumnya sepakat bahwa Eropa telah mengalami sekularisasi sejak 250 tahun terakhir. Yang masih mereka perdebatkan hanyalah soal bagaimana dan mengapa proses itu terjadi. Pengaruh liberalisasi lebih gencar terjadi setelah kembalinya dosen-dosen yang belajar ke luar negeri misalnya dari kampus Mc Gill di Kanada. Meskipun demikian orang-orang UIN membantah bahwa yang terjadi itu sangat kecil. Padahal racun orientalis sangat berbahaya walaupun kecil.
12.  Maraknya aliran sesat apakah pekerjaan orientalis?
            Secara tidak langsung, iya. Sebab orientalis lebih suka mengetengahkan yang dipinggir, membesarkan yang kecil dan meminggirkan yang di tengah. Misalnya aliran Syiah dan Ahmadiyah, yang kita anggap salah, oleh mereka dikaburkan sehingga seolah-oleh dianggap benar. Musailamah al-Kadzab, mereka mengatakan dari mana kita tahu ia nabi palsu. Mereka beranggapan Nabi Muhammad jadi nabi karena punya kekuatan, kekuasaan dan punya dukungan yang banyak. Musailamah kalah karena tidak punya dukungan.
13.  Apakah orientalis bisa disamakan dengan Diabolisme Intelektual?
            Sepanjang pemikiran dan penelitiannya bertentangan dengan kebenaran hakiki dari Ilahi Rabbi, bisa dikatakan sama.
14.  Bagaimana cara mengidentifikasi ilmuwan seperti ini?
            Tak sulit mengidentifikasinya, karena ciri-cirinya telah diterangkan dalam al-Qur'an. Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, tapi tak pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Firaun berikut hulu-balangnya, zulman wa 'uluwwan, meski hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum). Mereka selalu mencari argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Yang penting baginya bukan kebenaran tapi pembenaran. Dalam tradisi keilmuwan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut al-'inadiyyah.
            Kedua, bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arogan). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi saw, "Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (Al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas)." (HR Imam Muslim No147) Orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan al-Qur'an atau hadis Nabi saw dianggap dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lainnya. Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik, skeptis, menghujat al-Qur'an dan Hadits, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental Iblis.
            Ketiga, bermuka dua dan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang beriman bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha'). Intelektual semacam ini diancam Allah dalam al Qur'an: "Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya." (7:146)
            Keempat, mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang bathil dipoles dan dikemas sehingga nampak seolah-olah haq. Sebaliknya, yang haq digunting dan dipreteli sehingga kelihatan seperti bathil. Atau dicampur-aduk keduanya sehingga tak jelas lagi beda antara yang benar dan salah. Strategi ini memang sangat efektif membuat orang lain bingung dan terkecoh.
            Contohnya, seperti yang dilakukan oleh pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat al Qur'an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya. Untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bil-ma'tsur dari ayat-ayat tersebut.
15.  Berarti sama seperti yang dilakukan kaum orientalis Barat?
            Hal ini dilakukan oleh orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap al Qur'an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara kecil, mengutak-atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-sumber yang ada. Ini tak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam al-Qur'an 3:71, "Ya ahlal-kitab lima talbisunal-haqq bil-bathil wa taktumul-haqq wa antum ta'lamun?" Yang mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim.
            Al Qur'an telah mensinyalir: "Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka," (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan agar senantiasa menyadari bahwa "Sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang musyrik," (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab. Wallahua'lam.
16.  Bagaimana cara melawan dan menghadang sepak terjang mereka saat ini?
            Kalau kita melihat serpak terjang mereka yang begitu luar biasa, kita bisa berputus asa. Namun al-Qur’an melarang kita berputus apa, memang tidak mesti instan bisa kita selesaikan. Tentunya harus kita lakukan secara berjamaah diberbagai bidang baik di bidang pendidikan (perguruan tinggi), ekonomi dan lembaga swadaya masyarakat yang islami.
            Kita harus berani tampil beda untuk melakukan peningkatan di bidang pendidikan agar tidak perlu lagi mengirim para dosen dan guru untuk studi ke luar negeri. Oksidentalisme itu tidak bisa basa-basi. Itu sebenarnya sudah dilakukan sejak lama untuk mengimbangi pemikiran orientalis seperti yang dilakukan di Jerman, membuka jurusan S1 untuk mempelajari sejarah, budaya dan seluk beluk dunia Barat. Sehingga setelah itu mereka bisa masuk dalam dunia pendidikan dan perusahaan milik orientalis untuk menjadi penyeimbang.
BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
            Dari semua pandangan para orientalis di atas sudah pasti banyak pandangan yang mendiskritkan serta mereduksi surah dan ayat al-Qur’an dengan hal-hal negatif disebabkan kebencian mereka kepada islam dan faktor untuk mengintervensi kajian islam dengan sekulerisasi ilmu dari al-Qur’an. Serta ada pula pandangan dari para orientalis yang positif terhadap surah dan ayat al-Qur’an dikarenakan mengakui atas keindahan uslub dan keistimewaan mukjizat terbesar nabi Muhammad SAW tersebut.
B.     Saran.
            Pemakalah menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, banyak hal-hal yang masih kurang dalam makalah ini. Maka dari pada itu pemakalah mengaharapkan kritikan dan saran dari para pembaca dan terutama sekali kepada dosen pembimbing, guna untuk perubahan dan perbaikan bagi pemakalah dikemudian harinya.












DAFTAR PUSTAKA

·         Muhammad, A Biography of the Prophet,terjamahan Sirkit Syah, penerbit: Risalah Gusti hal.47)
·         Jalaluddin, Prof, 2001, Teologi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada




objek kajian filsafat




MAKALAH
METODE PENELITIAN FILSAFAT
Tentang:
OBJEK FORMAL DAN MATERIAL FILSAFAT

Disusun Oleh :
Rusma Donal              : 510.060

Dosen Pembimbing :
Zulfis M, Hum
Elfi Tajuddin M, Hum


JURUSAN AQIDAH FILSAFAT  FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
“IMAM BONJOL” PADANG
1434 H / 2013 M










Objek Material dan Objek Formal Filsafat
PEMBAHASAN
A. Definisi Filsafat
Adapun defenisi filsafat menurut para ilmuwan yaitu :
1. Plato (427-347 M) → Filsafat tidak lah lahir dari pengetahuan tentang segala yang ada
2. Aristoteles (384-322 M) → Filsafat itu menyelidiki sebab dan asas segala benda
3. Al-Kindi (800-870) → Filsafat merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi m anusia
4. AL-Farabi (872-950) → Filsafat itu adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikatnya yang sebenarnya
5. Ibnu Sina (980-1037) → hal pertama yang dihadapi seorang filsuf adalah bahw ayang ada berebeda-beda, terdapat ada yang hanya “mungkin ada”
6. Immanuel Kant (1724-1804) → filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yangi dalamnya mencakup empat persoalan, yaitu :
1. Apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)
2. Apakah yang boleh kita kerjakan? (dijawab oleh etika)
3. Sampai dimanakah pengharapan kita? (dijawab oleh agama)
4. Apakah yang dinamakan manusia? (dijawab oleh anthroposlogi)[1]
7. Prof Drs. Hasbullah Bakry, S.H → filsafat ialah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ke-Tuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
8. Prof. Dr. N Driyarkara S. J→ filsafat adalah pikiran manusia yang radikal artinya dengan mengesampingkan pendirian-pendirian dan pendapat-pendapat “yang diterima saja” mencoba memperlihatkan pandangan yang merupakan akar dari lain-lain pandangan dan sikap praktis.
9. Ciceor → Filsafat sebagai seni kehidupan
10. Rene Descartes → filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya
11. Francis Bacon → filsafat merupakan induk agung dari ilmu-ilmu dan filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bidangnya
12. John Dewey → filsafat haruslah dipandang sebagai suatu pengungakap mengenai perjuangan manusia secara terus meners dalam upaya melakukan penyesuaian berbagai tradisi yang membentuk budi manusia terhadap kecenderungan-kecenderungan ilmiah dan cita-cita politi yang baru dan tidak sejalan dengan wewenang yang diakui.[2]
            Berfilsafat merupakan salah satu kegiatna pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menmukan eksistensinya. Dalam kegiatan ini manusia akan berusaha untuk mencapai kearifan dan kebajikan. Kearifan merupakan buah yang dihasilkan filsfar dari usaha mencapai hubungan-hubungan antara berbagai pengetahuan, dan menentukan implikasinya baik secara yang tersurat maupun yang tersirat dalam kehidupan.
            Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berpikir dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila berpikir tersebut mengandung 3 ciri, yaitu radikan, sistematis dan universal. Seperti yang dijelaskan oleh Sidi Gazalba (1973:43) :
            Berpikir radikan, sampai ke akar-akarnya, tidak tanggung-tanggung, sampai pada konsekuensi yang terakhir. Berpikir itu tidak separuh-paruh, tidak berhenti di jalan, tetapi terus sampai ke ujungnya. Berpikir sistemati adalah berpikir logis yang bergerak selangkah demi selangkah dengan penuh kesadaran dengan urutan yang bertanggung jawab dan saling hubungan yang teratur. Berpikir universal tidak berpikir khusus, yang hanya terbatas kepada bagian-bagian tertentu, melainkan mencakup keseluruhan.
            Berdasarkan pada tingkat”berfikir” kita terlihat bahwa filsafat merupakan suatu uapya untuk mampu melakukan kajian secara mendasar sehingga dengan kajian yang mendasar tersebut dimungkinkan untuk dapat putusan tentang suatu secara bijaksana. Manusia selalu berpikir akan sesuatu yang sudah menjadi pengetahuannya, yang aman apengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan bagaimana usaha-usaha untuk mencapainya. Dengan ini manusia selalu berusaha untuk bertujuan menyelidiki hakekat yang sebenarnya. Karena filsafat merupakna ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang maan terdapat dalam persoalan-persoalan yang terjadi dalam keseharian kita sebagai manusia.
            Sesuai dengan makna filsafat, berfilsafat adalah berfiki dan sampai kepada spikulasi. Untuk itu filsafat menghindari oleh fiki dan sadar, yang berarti teliti dan teratur. Dimna manusia menegaskan pikiranya untuk bekerja sesuai dengan aturan dan hukum-hukum yang ada, berusaha menyerap semua yang bersala dari alam, baik yang bersal dari dalam dirinya atau di luarnya
            Dapat disimpulkan bahwa berfilsafat merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk mencapai kebijakan dan kearifan. Filsafat berusaha menuangkan dan membuat garis besar dari masalah-masalah dan peristiwa yang pelik dari pengalaman umat manusia.[3]
B. Objek Filsafat
            Subjek filsfat adalah seseroang yang berfikir atau memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Seperti halnya pengetahuan, Maka filsafatpun (sudut pandangannya) ada beberapa objek yang dikaji oleh filsafat
a. Obyek material yaitu segala sesuatu yang realitas
1. Ada yang harus ada, disebut dengan absoluth/ mutlak yaitu Tuhan Pencipta
2. Ada yang tidak harus ada, disebut dengan yang tidak mutlak, ada yang relatif (nisby), bersifat tidak kekal yaitu ada yang diciptakan oleh ada yang mutlak (Tuhan Pencipta alam semesta)

b. Obyek Formal/ Sudut pandangan
            Filsafat itu dapat dikatakan bersifat non-pragmentaris, karena filsafat mencari pengertian realitas secara luas dan mendalam. Sebagai konsekuensi pemikiran ini, maka seluruh pengalaman-pengalaman manusia dalam semua instansi yaitu etika, estetika, teknik, ekonomi, sosial, budaya, religius dan lain-lain haruslah dibawa kepada filsafat dalam pengertian realita.
Menurut Mr. D. C Mulder menulis sebagai berikut :
             Tiap-tiap manusia yang mulai berpikir tentang diri sendiri dan tentang tempatnya dalam dunia, akan mengahdapi beberapa persoalan yang begitu penting sehingga persoalan-persoalan itu boleh diberi nama persoalan-persolan pokok”.
            Louis Kattsoff mengatakan lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya yaitu meliputisegala pengetahuan manusia serta segala sesuatu apa saja yang ingin diketahui manusia.
            Dr. A. C Ewing mengatakan bahwa kebenaran, materi, budi, hubungan materi dan budi, ruang dan waktu, sebab, kemerdekaan, monisme lawan fluarlisme dan tuhan adalah termasuk pertanyaan-pertanyaan poko filsafat

            Ilmu adalah kumpulan pengetahuan. Kumpulan pengetahuan untuk dapat disebut ilmu harus memiliki syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang dimaksudkan adalah objek material dan objek formal.
            Objek material adalah sesuatu hal yang dijadikan sasaran pemikiran, sesuatu hal yang dipelajari. Objek material mencakup apa saja, baik hal-hal konkrit (misalnya: manusia, tumbuhan, batu) atau pun hal-hal yang abstrak (misalnya: ide-ide, nilai-nilai, kerohanian). Objek formal adalah cara memandang, cara meninjau yang dilakukan oleh seorang peneliti terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya. Maka dapat disimpulkan bahwa para ilmuwan yang ahli dibidang disiplin ilmu tertentu, mengarahkan perhatiannya pada salah satu aspek dari objek materialnya. Persoalan-persoalan umum yang ditemukan dalam bidang ilmu khusus itu antara lain sebagai berikut.
v  Sejauh mana batas-batas (ruang lingkup) yang menjadi wewenang masing-masing ilmu khusus itu? Dari mana ilmu khusus itu mulai dan sampai mana harus berhenti? Ilmu ekonomi pertanian termasuk wewenang fakultas ekonomi ataukah fakultas pertanian?
v  Dimanakah sesungguhnya tempat ilmu-ilmu khusus dalam realitas yang melingkupinya?
v  Metode-metode yang dipakai ilmu-ilmu tersebut berlakunya sampai dimana? Misalnya, metode yang dipakai ilmu sosial berbeda dengan yang dipakai ilmu kealaman maupun humaniora.
v  Apakah persoalan kausalitas (hubungan sebab-akibat) yang berlaku dalam ilmu kealaman juga berlaku pula bagi ilmu-ilmu sosial maupun humaniora? Misalnya setiap logam kalau dipanaskan pasti memuai. Gejala ini berlaku bagi semua logam. Panas merupakan faktor penyebab gejala memuai. Akan tetapi sulit untuk memastikan bahwa setiap kebijaksanaan pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri akan menimbulkan gejala kenaikan harga barang. Karena bisa saja kenaikan harga barang itu disebabkan oleh faktor lain misalnya adanya inflansi, banyaknya permintaan konsumen, langkanya barang-barang tertentu yang sangat dibutuhkan masyarakat. Kenaikan gaji pegawai negeri barangkali hanyalah salah satu dari beberapa sebab.
            Filsafat mengatasi setiap ilmu, baik dalam hal metode maupun ruang lingkupnya. Objek formal filsafat terarah pada unsur-unsur keumuman yang secara pasti ada pada ilmu-ilmu khusus. Dengan tinjauan yang terarah pada unsur-unsur keumuman itu, maka filsafat berusaha mencari hubungan-hubungan di antara bidang-bidang ilmu yang bersangkutan.
            Permasalahan filsafat mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai makna, kebenaran, dan hubungan logis di antara ide-ide dasar yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan empiris. Ide dasar mencakup pelbagai keyakinan dan teori yang kita pegang dengan sadar, pelbagai konsekuensi dan asumsi keyakinan yang dipercayai begitu saja serta berbagai konsep yang berdiri sendiri. Sifatnya umum (general) dan pervasive (luas).
            Makna didapat ketika kegiatan memberikan arti pada sesuatu yang dilakukan. Ketika orang mulai bertanya tentang hal-hal yang umum, dan kemudian mulai mendapatkan jawaban yang bermakna dari kegiatan itu, ia telah mencoba menemukan makna. Permasalahan filsafat dimulai dengan bagaimana manusia mendapatkan sesuatu yang bermakna dari tindakannya dalam rangka menafsirkan dunia yang menghidupinya, tentang arti suatu simbol, dan tentang bagaimana member arti pada diri.
            Permasalahan lainnya yang sangat penting bagi filsafat adalah masalah kebenaran. Mengapa demikian? Pertama, kebenaran merupakan suatu hal yang banyak dicari, dengan tingkat keberhasilannya masing-masing di kalangan pencarinya. Kedua, tingkat pencarian kebenaran yang menghasilkan klaim-klaim kebenaran dan klaim-klaim validitas sering menimbulkan konflik antara manusia yang memiliki “kebenaran” yang berbeda.
            Permasalahan lain adalah hubungan logis antara satu hal dan hal lainnya, yang dalam hal ini ada tiga jenis hubungan logis:
v  dua keyakinan yang tidak selaras sehingga keyakinan tersebut tidak bisa sama-sama benar.
v   sebuah keyakinan mengandaikan keyakinan yang lain sehingga keyakinan pertama harus benar agar keyakinan yang kedua benar.
v  sebuah keyakinan memiliki suatu konsekuensi logis sehingga keyakinan itu menghasilkan konsekuensi benar atau salah.
            Sementara itu, sebagai sebuah bidang studi, filsafat memiliki objek kajian. Ada beberapa jenis objek kajian filsafat, antara lain sebagai berikut:
1. Objek Material, yaitu lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu. Objek material filsafat adalah ADA dan yang mungkin ADA
2. Objek formal, yaitu sudut tertentu yang menentukan ciri suatu ilmu. Objek formal filsafat adalah mencari keterangan yang sedalam-dalamnya.


PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Kata “filsafat” berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan “Shopia”. Philos artinya cinta yang sangat mendalan, dan sophia artinya kearifan atau kebijakan. Jadi arti filsafat secara hrfiah adalah cinta yang sangat mendalam terhadapat kearifan atau kebijakan. Filsafat dapat diartikan sebagai suatu pendirian hidup (individu) dan dapat juga disebut pandangan hidup (masyarakat). Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan/ pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menemukan eksistensinya. Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berpikir dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila berpikir tersebut mengandung tiga ciri yaitu radikan, sistematis dan universal. Untuk ini filsafat menghendakilah pikir yang sadar, yang berarti teliti dan teratur. Berarti bahwa manusia menugaskan pikirnya untuk bekerja sesuai dengan aturan dan hukum-hukum yang ada, berusaha menyerap semua yang bersal dari alam, baik yang berasal dari dalam dirinya atau diluarnya.
            Berfikir merupakan subjek dari filsafat akan tetapi tidak semua berfikir berarti berfilsafat. Subjek filsafat adalah seseorang yang berfikir/ memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh dan mendalam. Objek filsafat, objek itu dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek itu sendiri contohnya si aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah subjek itu sendiri. Objek filsafat dapat dibedakan atas 2 hal :
v  Objek material adalah segala sesuatu atau realita, ada yang harus ada dan ada yang tidak harus ada
v  Objek formal adalah bersifat mengasaskan atau berprinsi dan oleh karena mengasas, maka filsafat itu mengkonstatis prinsip-prinsip kebenaran dan tidak kebenaran





DAFTAR PUSTAKA
1.      http://www.vancebatosai.blogspot.com/ _.htm
2.      http//:objek filsafat, google, Posted 02 Jun 2011 05:28 PM
3.      Ihsan fuad. 2010.filsafat ilmu. Jakarta:Rineka Cipta.



[1] http://www.vancebatosai.blogspot.com/ _.htm
[2] http//:objek filsafat, google, Posted 02 Jun 2011 05:28 PM
[3] Ihsan fuad. 2010.filsafat ilmu. Jakarta:Rineka Cipta.